GOLONGAN PUTIH (GOLPUT)
Pemerintah beragumen apabila melakukan Golput maka kita bukan warga Negara yang baik, apa tanggapan kita :
1. Mungkin dibalik stegmen itu ada kepentingan politik yang mendasari, apabila pemerintah mengatakan apabila Golput bukan warga yang baik maka hal itu tidak masuk di akal.
2. Warga yang baik tidak mesti harus ikut pemilu, contohnya para koruptor yang ikut pemilu apa bisa kita katakan sebagai warga yang baik.
3. Suatu Negara harus ada pemimpin yang mana pemimpin merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap keutuhan Negara, apabila tidak adanya pemerintahan maka Negara akan hancur.
Partai politik yang saat sekarang ini apakah layak untuk kita pilih?
1. Kalau bicara layak tentu semua layak kita pilih, berdasarkan sumber yang kita baca semua memilki program kerja yang baik tapi apakah hal ini akan bias diwujudkan.
2. Banyak sekali mahasiswa yang mmerantau akan tidak memilih, hal ini tidak adanya tawran dan untuk memilih akan mempersulit karena mesti pulang ke tempat asal.
3. Layak dan tidak layak kembali kepada diri sendiri, saat ini masyarakat bingung dikarenakan banyaknya partai politik yang tidak jelas latar belakangnya.
4. Untuk layak dan tidak layak kembali kepada partai politik mereka yang membuat partai politik merekalah yang layak memilih partai politik mereka sendiri.
Sepakat apa tidak kita melakukan Golput, apa alasan kita?
1. Ini adalah pilihan yang sulit.
2. Memilih bias saja dengan do’a saja.
Golput bukan wacan baru, setiap pemilihan umum selalu muncul wacana Golput, wacana golput pada Indonesia tergantung pada konteks politik pada masa itu, motivasi munculnya golput itu terkait masalah politik pada saat itu. Pemilu itu di saint sedemikian rupa akibat tidak kepuasan masyarakat terhadap sitem pemerintahan kita.
Pada era repormasi pada tahun 1999 wacana golput sudah mulai mengecil, pada tahun 2004 golput malah naik menjadi sektar 20 % mungkin dikarenakan rakyat merasa perubahan yang ada pada tahun lalu tidak memberikan kita perubahan yang nyata. Artinya rakyat sudah mulai kecewa terhadap pemerintahan.
Dan tahun 2004-2009 saat ini pemerintahan dengan kepala Negara yang dipilih oleh rakyat, menjadi harapan baru tapi harapan tinggal harapan tenpa adanya kenyataan, maka dari itu isu golput kini menjadi membengkak, berdasarkan kajian bahwa tran golput semakin naik sejak pilkada tahun 2005 hingga saat sekarang ini, golput terus meningkat.
Kini kembali lagi kepada masyarakat, apakah masyarakat sudah mulai belajar memahami akan partai politik atau tidak. Semua Visi dan Misi dari parpol baik, tapi apa yang telah mereka lakukan terhadap masyarakat selama ini. Sampai saat ini belum ada partai politik yang benar-benar mementinkan kepentingan rakyat, semua partai politik akan dekat dengan rakyat apa bila menjelang pemilihan umum (PEMILU) setelah pemilu mereka lupa dengan semuanya. Mereka asik dengan kursi kedudukan dan menjadi liar seperti hewan yang tidak punya lagi hati nurani.
Dari berbagai pembelajaran hampir mayoritas pemimpin Negara yang diusungkan oleh partai politik semuanya memiliki sejarah yang suram, latar belakang yang tidak seperti yang kita harapakan, tapi pada kenyataanya mereka sudah bisa mengembalikan citra nama baik mereka dengan memanfatkan berbagai media massa. Kepada seluruh rakyat Indonesia tolong kaji kembali siapa pemimpin yang akan kita pilih, jangan sampai kita tergiur dengan janji manis mereka, pikirkanlah selama ini mereka menjadi orang besar/menjabat mereka malah merusak bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar